FilmShowbiz
Trending

Dua Garis Biru: Cinta, Ego & Masa Depan

Satu lagi film Indonesia yang layak tonton, Dua Garis Biru! Sebelumnya, film ini sempet diberitakan akan dicekal dan urung tayang, tapi alhamdulillah kita semua bisa menontonnya di bioskop mulai 11 Juli 2019. Kamu sudah menontonnya? Jika belum, baca artikel lain saja ya karena tulisanku ini agak mengandung spoiler.

Film Dua Garis Biru tak sekedar menceritakan tentang remaja yang terjebak dengan pergaulan, alur cerita dan konflik yang disuguhkan benar-benar membuat pandangan tak sedikitpun terlewat dari layar. Ceritanya apik, membangun emosi penonton scene demi scene. Bahkan, bisa membuat kita menitikkan air mata, tapi Gina S Noer tak lupa membuat kita bisa tersenyum dengan celetukan kocak di beberapa scene. Sayangnya, di ending masih bikin kita bertanya-tanya yang menyesakkan dada, “Kok gini ending-nya? Nggak gini caranya….”

Bagi sebagian orang, film Dua Garis Biru terasa agak sedikit berat, mungkin karena sarat edukasi, nggak hanya untuk cewek saja, tapi cowok juga jadi tau bahwa proses kehamilan itu nggak sederhana, apalagi hamilnya di usia remaja dan bukan dari buah pernikahan resmi. Itu ada benarnya, tapi bagiku sendiri sih Gina S Noer sudah baik dalam mengemas film berdurasi 113 menit ini secara rapi tanpa menggurui.

Cerita Dua Garis Biru

Bercerita tentang Dara (Adhisty Zara) dan Bima (Angga Yunanda), pasangan remaja berusia 17 tahun yang merajut cinta. Mereka adalah teman satu sekelas, sebangku pula.

Dara dikenal sebagai murid berprestasi yang berasal dari keluarga terpelajar. Di sisi lain, Dara tetaplah gadis belia masa kini yang begitu terobsesi dengan ke-Korea-an. Dia bucin Kpop, terlihat di kamarnya begitu banyak poster boyband. Dara pun bercita-cita setelah lulus sekolah, dia akan berkuliah di Korea untuk meraih mimpinya.

Sedangkan Bima tak sespesial Dara, Bima adalah murid yang mengoleksi nilai ulangan di bawah 50, gurunya saja sampai bilang kalau Bima tak punya masa depan. Bima tumbuh di keluarga sederhana dan religius, rumahnya di gang sempit, yang temboknya tips dan saling terhubung, khas perkampungan Jakarta.

Namun semua perbedaan tersebut tak menghalangi mereka menjalin asmara. Ini sudah ditunjukkan sejak pertama film mulai, diceritakan Bima dan Dara sudah berpacaran. Rasa nyaman di antara mereka berdua ini sudah terlanjur tumbuh, hingga berkembang di luar batas norma. Ya, Dara hamil. Awal mula semua permasalahan mereka ini dipaparkan di 15 menit awal film.

Dara dan Bima memang tak paham konsekuensi dari apa yang sudah mereka lakukan, jadi setelah peristiwa tersebut, mereka melewati hari-hari yang berat untuk anak seusianya. Bagaimana tidak, semua dilakukan sembunyi-sembunyi, mulai dari test pack hingga rencana menggugurkan kandungan. Untungnya setelah Dara melihat blenderan buah yang mau dibikin jus, dia mengurungkan niatnya.

Masalah mereka terkuak ketika jam olahraga, secara tak sengaja bola menghantam kepala Dara. Dia hampir jatuh pingsan, teman-teman sekolah dan gurunya panik menolong Dara. Lucunya, Dara bukan memegang kepala, tapi perut. Upppsss, dia keceplosan bilang kalau dirinya hamil. Mendadak heboh! Semua tau Dara hamil, tentu saja semua bisa menebak ayah dari bayi yang di kandungnya adalah Bima, pacarnya.

Saat itu juga keluarga mereka menjemput Dara dan Bima di sekolah. Masalah mulai runyam, orangtua mereka hampir tak percaya, terutama Ibu Dara (Lulu Tobing) dan ayah Dara (Dwi Sasono) yang seolah mendesak Dara bahwa semua ini terjadi akibat unsur paksaan. Mereka merasa gagal dalam mendidik Dara. Mereka juga tak terima karena Dara dikeluarkan dari sekolah, tapi tidak untuk Bima yang masih bisa bersekolah.

Sementara itu, orangtua Bima hanya bisa pasrah, walau amarah sempat meluap, tapi akhirnya Bima dan orang tuanya membawa Dara ke rumah karena diusir orangtuanya. Gini amat ya?

Long short story, Dara dan Bima menikah. Bima sadar, bahwa dialah orang yang harus bertanggung jawab atas peristiwa ini. Sebagai calon ayah, Bima mulai memikirkan bahwa dia harus bisa mandiri untuk menghidupi Dara dan anak yang dikandungnya. Dia bekerja paruh waktu hingga larut di restoran Ayah Dara.

Berbagai konflikpun mulai datang satu persatu, terutama di bulan-bulan jelang Dara melahirkan. Orangtua Dara berencana menitipkan anak Dara kelak untuk saudaranya. Tentu Bima & keluarga nggak terima dan ingin merawat bayi tersebut.

Dara masih berkeinginan untuk tetap berangkat ke Korea, menjemput mimpi dengan berkuliah di sana. Padahal Bima sudah berkomitmen tidak akan meninggalkan Dara untuk membesarkan anaknya. Namun ego tetaplah ego, Dara yang memang masih remaja tetap punya mimpi tinggi dan ingin meraihnya.

Jelang akhir film, saat Dara melahirkan, emosi penonton makin diaduk-aduk. Proses kelahiran Dara begitu dramatis, yang nonton jadi deg-degan sendiri. Eh, itu belum cukup, setelah proses kelahiran ternyata menyisakan pendarahan di rahim Dara sehingga harus dioperasi. Risikonya dua, pengangkatan rahim atau Dara meninggal dunia.

Duhhh… Kok gini yaaa filmnya, sedih..

Akting Adhisty Zara yang Makin Mempesona

Sepertinya semua bakat diborong sama dia, nyanyi, nari dan akting, semuanya dibabat habis sama member JKT48 ini. Zara pertama berakting di film Dilan 1990, walau scenenya minim, tapi berhasil mencuri perhatian berkat celetukan, “Disaaaaaa…..”.

Setahun setelahnya, para penggemar pasti puas melihat Zara di film Keluarga Cemara, pasalnya Zara nyaris akting tanpa cela. Perannya sebagai Euis bahkan membawanya menyabet beberapa penghargaan bergengsi perfilman Indonesia. Prestasi ini tentu luar biasa, mengingat Zara belum lama berakting, usianya pun masih sangat belia. Zara benar-benar bertalenta!

Lagi-lagi di film Dua Garis Biru ini, Zara memberi suguhan akting yang memukau. Dari semua scene-nya, aku pribadi paling suka melihat saat dia menangis. Air mata keluar tiba-tiba, suaranya lirih memekik kesenduan, adegan ini seperti tidak dibuat-buat, natural sekali, sesuai porsi dan tidak berlebihan. Berkali-kali Zara harus mengeluarkan air mata, berkali-kali itu pula aku merasa iba.

Scene Favorit dari yang Terfavorit

Aku ada scene favorit, yang satu sedih dan yang satu lucu. Yang sudah nonton pasti tau maksudku dengan scene lucu tersebut. Kehadiran Astri Welas yang hanya beberapa scene saja, tapi sudah bisa melemaskan otot otak yang sedari awal film tadi berat banget.

Scene selanjutnya, yang sedih (mungkin lebih tepatnya menyentuh) adalah kedekatan Bima dan ibunya (Cut Mini). Chemistry keduanya terbangun sempurna, terutama saat deep talk di ruang tamu. Bima tiba-tiba nyamperin saat ibunya mengemas gorengan dagangannya. Kira-kira dialognya begini.

“Bu, kalau Bima masuk neraka, Bima doakan ibu jangan sampai ikut, ya!” Kata Bima.

“Apa sih kamu, Bim. Ibu selalu doakan kamu masuk surga” jawab sang ibu.

“Tapi Allah mau nggak maafin kesalahan Bima?”

“Perlahan-lahan, ibu saja mau maafin kamu Bim, apalagi Allah”

“Jadi, Ibu juga harus maafin diri ibu sendiri ya?” mohon Bima.

“Coba dulu kita ngobrol kaya gini ya Bim mungkin ga bakal kejadian”

Seketika aku merinding, makin-makin pas lihat Bima dan ibunya berpelukan. Adegan kedekatan ibu dan anak seperti ini selalu bikin aku haru.

Soundtrack yang Mengaduk Perasaan

Satu lagi yang turut membuat film ini lebih hidup, soundtrack! Suara Kunto Aji dan Rara Sekar sepanjang film mampu memberi nyawa film Dua Garis Biru. Adapu sepengetahuanku lagu-lagu OST film Dua Garis Biru adalah:

  • Biru (Menampilkan Layur) – Banda Neira.
  • Growing Up – Daramuda feat Rara Sekar.
  • Sulung – Kunto Aji.
  • Jikalau – Naif.
  • Sorry – Pamungkas.
  • Muda, Tangguh,Perkasa – Angsa & Serigala.

———-

Nah, itulah resensi alias review film Dua Garis Biru versiku. Apa yang aku tulis di atas adalah opiniku pribadi. Maaf kalau banyak spoiler, kan aku sudah pernah bilang kalau tulisan ini banyak spoilernya. Feel free kalau mau saran kritik juga yaaa, terima kasih!

Score film Dua Garis Biru (4/5)
⭐⭐⭐⭐

Tags

Di Ujung Langit

Sharing is caring. Menulis tentang segala hal yang ada dalam pikiran, Semoga tulisan saya bermanfaat untuk banyak orang. Untuk mengetahui banyak hal tentang saya, silakan klik icon sosial media di bawah ini

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close